Skip to main content

Topic: Sesering apakah kamu berbelanja dengan Online?? (Read 43418 times)

Re: Sesering apakah kamu berbelanja dengan Online??

Reply #705
saya malah baru tahu kalau order toped bisa dioper2 gitu, mirip fitur bl yang cari barang serupa ya.

sementara ini, kalau perkara cs yang masih rada nyambung diajak ngomong itu bl dan shopee. dan malah kalo saya ada keluhan lebih milih komplain via dm/pm ke akun medsosnya, lebih waras responnya.

-

bukadompet ditutup, sekarang saldo bukalapak dioper ke dana. mau cairin uang di dana harus verifikasi ktp, dan bisa makan waktu 1 minggu kalau lancar. otomatis uang hasil jualan/refund tertahan.

secara pribadi enggan pakai dana, soalnya terlalu banyak data yang sudah diberikan ke berbagai institusi finansial. niatnya mengendalikan saja.

Re: Sesering apakah kamu berbelanja dengan Online??

Reply #706
saya malah baru tahu kalau order toped bisa dioper2 gitu, mirip fitur bl yang cari barang serupa ya.
Ada, itu "fitur" "untuk membantu buyer mendapatkan barang yang dimaui." Cuma yang jadi problem, itu otomatis tis tis, gak ada konfirmasi & gak ditanya yes/no ke buyer. Lha padahal kan kita beli/pilih seller tertentu kan kadang/sering ada pertimbangan khusus, lha nek dilempar random gitu (walaupun menurut toped ada kriteria nya juga seller2 yang dapat penawaran bola liar tsb) ya bisa aja kena kasus dapat seller yang kata2nya kasar gitu.

sementara ini, kalau perkara cs yang masih rada nyambung diajak ngomong itu bl dan shopee. dan malah kalo saya ada keluhan lebih milih komplain via dm/pm ke akun medsosnya, lebih waras responnya.
Saya sih cuma pengalaman pernah kontak cs toped. Di samping baca2 punya orang.
& saya setuju bahwa cs toped itu responsif sih responsif, cuma ya gitu itu, soal solving problems, nanti dulu.

bukadompet ditutup, sekarang saldo bukalapak dioper ke dana. mau cairin uang di dana harus verifikasi ktp, dan bisa makan waktu 1 minggu kalau lancar. otomatis uang hasil jualan/refund tertahan.

secara pribadi enggan pakai dana, soalnya terlalu banyak data yang sudah diberikan ke berbagai institusi finansial. niatnya mengendalikan saja.
Kalo dari segi ini, IMO masih mendingan toped (ofo) dibanding punya bl, lebih lesser evil (dari segi trouble) menurut perasaan saya.
Perasaan dana kok kayak lebih immature lagi dibanding ofo ya.
Heran juga ini startup2, urusan duit asli/real kok kayak main-main gini. Ya termasuk regulatornya sih, sudah jelas banyak/sering error/trouble kok gak dikasih teguran/SP gitu. Sama juga dengan praktik toped yang kayak mengutip fee buat gestun, kok dibiarin aja. Padahal sudah pernah ada beberapa yang mem-forward-kan kejadiannya ke bi lho.

Sekarang semua OL shop punya sendiri-sendiri. Sopi ada sendiri, beli2 punya sendiri, terus ini toped & bl.
Dilema juga sebagai buyer yang serius concern terhadap faktor keamanan & kenyamanan, mau ambil promo cashback di 1 marketplace tertentu, mesti mikir2 lagi prospek penggunaan marketplace tersebut di kemudian hari bakal cukup sering kah? Soalnya kalau gak, kan nyantol juga "duit" cashback di saldo internal, gak bisa di-apa2in di luar environment tersebut.
Ini sebabnya saya akhirnya konsen di toped aja belanja maupun bayar2 tagihan nya.
Kadang-kadang bayar tagihan di jdid yang masih diskon langsung di nominal tagihannya.

Tapi kalau seller yang "serius" jualan, ya rasanya mesti mau ribet sedikit buka cabang di semua marketplace (& mengikuti berbagai prosedur spesifik di tiap-tiap marketplace). Demi cari nafkah kan.

"carrot" terbaru dari jdid

Reply #707
https://www.jd.id/campaign/jd-fans-introduction.html

Dengan cukup banyaknya komplen di media online berkaitan dengan pengiriman (kurir/ekspedisi internal yang seharusnya bisa berdampak positif terhadap pengalaman berbelanja , tapi malah jadi weak point) & barang2 harga diskon yang dibatalkan secara sepihak transaksinya, kelihatannya "inovasi" ini diharapkan bisa meningkatkan daya penarik orang untuk bertransaksi.

Saya langsung terpikir 2 hal:
  • Berpotensi disalah-gunakan & menjadi sarana spam
  • Teoritisnya saja menyebutkan jangka waktu 60-75 hari kerja, realitanya (berdasarkan pengalaman kenyataan yang ada & sering terjadi) bisa jadi lebih lama. Ditambah lagi entah berapa besar (atau berapa kecil) "komisi" yang akan diberikan. Ditambah lagi, bakal dikenakan pajak pula.

Bagi saya sih totally not worth the hassle. Belum lagi resiko kena maki dari para "mangsa" saya yang setelah transaksi via link saya kemudian mengalami trouble kejadian seperti yang banyak di-share di media online di atas...

Re: Sesering apakah kamu berbelanja dengan Online??

Reply #708
saya malah baru tahu ada jd fans

ya bakal sering kena spam, dan dari sisi penghasilan yakin banyak tertahan karena perlu saldo minimal untuk menariknya. 200 ribu dalam komisi itu besar lho. rate komisi paling besar itu fashion, sisanya 1-2%an biasanya.

yang bisa sukses main sistem gini paling influencer di media sosial.

-

btw, sekarang banyak barang di jd yang sudah menerapkan ongkir. walau dihitung masih murah (9 ribu), tampaknya sudah lewat masa bulan madunya. padahal akun saya sudah diamond disana. :D